Satelit Telkom 3S dan Satelit Merah Putih

Satelit telkom
Sumber gambar: https://id.wikipedia.org/wiki/Telkom-3S

PT Telkom Indonesia (Persero) terus berupaya meningkatkan layanan komunikasi mereka. Hal tersebut semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pelanggan terkait hal-hal yang berhubungan dengan komunikasi seperti telepon dan internet. Salah satu upaya tersebut adalah meluncurkan satelit komunikasi milik mereka.

Sudah ada beberapa satelit milik PT Telkom Indonesia (Persero) yang pernah diluncurkan, di antaranya adalah Satelit Telkom 3S dan Satelit Telkom-4 atau yang juga disebut dengan Satelit Merah Putih. Tentu Anda penasaran dengan kedua satelit tersebut bukan? Oleh karena itu, hilangkan rasa penasaran Anda dengan membaca ulasan mengenai kedua satelit tersebut pada postingan kali ini.

Teknologi dan Fungsi Satelit Telkom 3S

Pada tanggal 15 Februari, PT Telkom Indonesia (Persero) meluncurkan satelit terbarunya yang bernama Satelit Telkom 3S. Kehadiran satelit ini dalam rangka peningkatan kualitas jaringan komunikasi di Indonesia maupun sekitarnya.

Untuk perakitannya, Telkom mempercayakannya kepada Thales Alenia Space Perancis, sebuah perusahaan yang sudah berkecimpung sekitar 40 tahun dalam bidang manufaktur teknologi luar angkasa. Perusahaan tersebut bertugas untuk mendesain, menguji, serta melakukan peluncuran.

Sebagai satelit komunikasi di orbit geostasioner, Satelit Telkom 3S akan diposisikan di atas equator dan bergerak mengelilingi bumi secara melingkar. Ketinggiannya berkisar 35.786 dari permukaan bumi, dengan posisinya yang tepat di atas pulau Kalimantan (118 derajat bujur timur).

Total jumlah transponder pada satelit ini adalah 42. Detailnya, 24 transponder C-Band untuk wilayah Asia Tenggara, 10 transponder Ku-Band untuk wilayah Indonesia secara keseluruhan, sedangkan 8 sambungan transponder C-Band untuk wilayah Indonesia, Kalimantan Utara, dan Papua Nugini.

Teknologi pita frekuensi C-Band sangat cocok digunakan di Indonesia, karena lebih tahan terhadap cuaca buruk dan sering berganti-ganti. Selain itu, frekuensi ini juga cocok oleh aplikasi yang membutuhkan kecepatan data tinggi, misalnya mesin ATM.

Adapun pita frekuensi Ku-Band, jauh lebih rentan terhadap gangguan cuaca. Biasanya frekuensi ini dipakai untuk kebutuhan komunikasi bisnis, telepon, serta televisi.

Satelit Telkom 3S ini didesain untuk kebutuhan akses informasi pada siaran televisi berkualitas tinggi (High-Definition Television), komunikasi seluler, termasuk broadband internet. Telkom 3S juga dipercaya dapat meningkatkan layanan bit-rate untuk komunikasi yang lebih baik.

Letak geografis Indonesia yang unik dan terdiri dari ribuan pulau dan pegunungan, menjadikannya sulit dijangkau oleh sistem komunikasi terrestrial maupun serat optik. Atas pertimbangan inilah, Telkom Indonesia akhirnya memilih untuk meluncurkan sistem komunikasi satelit sebagai solusi jangkauan telekomunikasi di seluruh penjuru nusantara.

Jarak jangkauan Satelit Telkom 3S tidak hanya mencakup seluruh wilayah Indonesia, tetapi juga seluruh wilayah Asia Tenggara dan sebagian Asia Timur. Keberadaan Satelit ini untuk menggantikan satelit Telkom-3 yang diluncurkan pada 6 Agustus 2012, namun gagal mencapai orbit.

Bobot satelit ini berkisar 3,5 ton dan daya elektrik 7,8 kilo watt. Sedangkan masa aktifnya berkisar 15 tahun untuk mengorbit di atas bumi. Peluncurannya dilakukan dari Guiana Space Centre yang berlokasi di Kota Kourou, Guyana Perancis pada pukul 04.39 WIB. Alat peluncuran yang digunakan adalah roket Ariane 5 ECA VA235.

Satelit tersebut akhirnya berhasil lepas dari roket peluncurnya pada menit ke-39 detik ke-42 setelah diluncurkan. Akhirnya pada akhir Februari 2017, Satelit tersebut berhasil terparkir sepenuhnya.

Teknologi dan Fungsi Satelit Merah Putih

Satelit lainnya milik Telkom yang juga berhasil diluncurkan adalah Satelit Telkom-4 atau yang lebih dikenal dengan nama Satelit Merah Putih. Keunggulan dibandingkan dengan generasi sebelumnya terletak pada kapasitasnya yang lebih besar.

Perakitan satelit yang sukses diluncurkan pada tahun 2018 lalu ini dipercayakan oleh pihak Telkom kepada perusahaan Space Systems Loral (SSL), sebuah perusahaan provider satelit geostasioner komersial yang berbasis di Palo Alto, California. Kiprahnya di bidang ini sejak tahun 1957.

Satelit ini dibekali dengan 60 transponders. Detailnya, 24 Standard C-Band dan 12 Extended C-Band yang bisa menjangkau Asia Tenggara, sedangkan 24 Standard C-band bisa menjangkau Asia Selatan. Kemudian akan mengorbit di atas wilayah sekitar Selat Karimata, pada posisi 108 derajat Bujur Timur (BT).

Kehadirannya melengkapi dua Satelit Telkom lainnya yang sudah duluan aktif, yaitu Telkom 2 dan Telkom 3S, yang membuat basis bisnis satelit TelkomGroup akan semakin kuat.

Keunggulan satelit yang satu ini terletak pada kapasitasnya yang lebih besar serta jangkauannya yang lebih luas jika dibandingkan dengan satelit lainnya yang juga dimiliki oleh Telkom. Selain itu, teknologi yang disematkan padanya juga canggih yaitu Fiber Optic Gyro, sehingga tak heran jika tingkat kestabilannya lebih bagus.

Satelit yang satu ini diluncurkan menuju orbit dengan bantuan media peluncur roket flight-proven Falcon 9 milik SpaceX. Perusahaan asal Amerika ini bergerak di bidang jasa peluncuran, yang tingkat kesuksesan peluncurannya sangat tinggi yaitu 98%. Adapun waktu peluncurannya dilakukan diluncurkan pada hari Selasa, 7 Agustus 2018 dari Cape Canaveral, Florida.

Pada ketinggian 500 kilometer, satelit yang memiliki bobot berbobot 5.800 kilogram dan tinggi 70 meter ini dilepaskan dari roket yang membawanya. Saat pelepasan, kecepatannya berkisar 33.920 kilometer per jam.

Merah Putih merupakan satelit ke-10 yang berhasil dioperasikan oleh Telkom sepanjang sejarah perusahaan itu. Beberapa satelit sebelumnya adalah Palapa A1 yang diluncurkan pada tahun 1976, Palapa A2 yang diluncurkan pada tahun 1977, Palapa B1 yang diluncurkan pada tahun 1983, Palapa B2P yang diluncurkan pada tahun 1987, Palapa B2R yang diluncurkan pada tahun 1990, Palapa B4 yang diluncurkan pada tahun 1992, Telkom 1 yang diluncurkan pada tahun 1999, Telkom 2 yang diluncurkan pada tahun 2005, dan Telkom 3S yang diluncurkan pada tahun 2017.

Peluncuran satelit menelan biaya yang tidak sedikit. Pasalnya, peluncuran satelit ke antariksa menghabiskan biaya hingga ratusan juta dolar AS. Contohnya peluncuran Satelit Telkom 3S pada tahun 2017 yang menelan biaya sebesar 215 juta dolar AS atau setara dengan Rp3,1 triliun.

Tapi biaya untuk peluncuran Satelit Merah Putih agak murah, karena hanya membutuhkan biaya sebesar 166 juta dolar AS atau setara dengan Rp 2,4 triliun. Bisa lebih murah karena kecanggihan roket besutan SpaceX. Pasalnya, perusahaan tersebut membuat roket yang bisa digunakan kembali. Dengan begitu, biaya peluncuran bisa ditekan.

Penyebab lain mengapa biaya peluncuran Satelit Merah Putih bisa lebih murah, tidak lain karena roket canggih buatan SpaceX tersebut 50 juta dolar lebih murah jika dibandingkan para pesaingnya yang terdapat di AS dan Eropa.

Keberhasilan peluncuran Satelit Merah Putih bertepatan dengan HUT ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus pertanda kalau PT Telkom Indonesia (Persero) sudah 42 tahun berkiprah dalam bisnis dan pengoperasian satelit telekomunikasi Indonesia.

Peluncuran Satelit Merah Putih diharapkan bisa memberikan dorongan dan sumbangsih bagi pembangunan masyarakat digital Indonesia, di samping semakin mengokohkan peranan Telkom sebagai pelopor dalam kemajuan ekonomi digital nasional.

gå til denne siden

Durante le sessioni di ruolo, non è sempre “stop” significa “stop”. Spesso, il partner “in basso” piace piangere, gridare o implorare “top” per fermarsi. Tale manifestazione come capire che una ragazza e innamorata di te emozioni può essere parte della situazione di gioco, che entrambi i partecipanti all’azione sanno. Ma se uno dei partner vuole in realtà fermare ciò che sta accadendo, deve dire stop-word.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *